1. Motivasi
untuk menjadi lebih baik
Taklukan
diri sendiri, Hal yang mampu menentukan keberhasilan dan kegagalan seseorang
adalah dirinya sendiri. Karena itu diperlukan evaluasi setiap hari atas apa
saja yang telah berhasil dikerjakan
2. Kepemimpinan
Suatu
pedoman bagi kepemimpinan yang baik adalah “perlakukanlah orang-orang lain
sebagaimana wirausahawan ingin diperlakukan”. Berusaha membangkitkan suatu
keadaan dari sudut pandangan orang lain akan ikut mengembangkan sebuah sikap
tepo seliro.
Pengusaha
yang berpeluang untuk maju secara mantap adalah yang memiliki jiwa kepemimpinan
yang sangat menonjol. Ciri-ciri mereka biasanya sangat menonjol, dan sangat
khas. Dimana keputusan dan sepak terjangnya sering dianggap tidak lazim dan
lain dari pada umumnya pengusaha. Mereka “tampil beda”.
Salah
satu contoh : adalah Kim Woo Chong, seorang Wirausahawan terkemuka di Korea,
pendiri kelompok Daewoo. Kim tidak pernah terpengaruh oleh sepak terjang
pengusaha-pengusaha lain dan ikut-ikutan mengejar trend bisnis yang ramai-ramai
dilakukan orang.
Pada
saat para pengusaha lain berlomba-lomba mencari pasar di Amerika dan Eropa, ia
secara mengejutkan justru menerobos negara-negara tirai besi, seperti Rusia dan
sekutu-sekutunya. Lebih mencengangkan lagi ia juga merangkul negara-negara yang
sejauh ini sangat ditakuti dan diharamkan oleh negara-negara penganut
kapitalisme seperti Libia dan Iran. Akan tetapi kenyataan membuktikan bahwa Kim
benar. Dengan keputusannya itu ia, dan Daewoo berkembang menjadi salah satu
konglomerat terbesar di Asia serta diperhitungkan dimana-mana termasuk Amerika
dan Eropa.
3. Etika
bisnis islam
Etika bisnis lahir di Amerika pada tahun 1970
an kemudian meluas ke Eropa tahun 1980an dan menjadi fenomena global di tahun
1990 an jika sebelumnya hanya para teolog dan agamawan yang membicarakan
masalah-masalah moral dari bisnis, sejumlah filsuf mulai terlibat dalam
memikirkan masalah-masalah etis disekitar bisnis, dan etika bisnis dianggap sebagai
suatu tanggapan tepat atas krisis moral yang meliputi dunia bisnis di Amerika Serikat,
akan tetapi ironisnya justru negara Amerika yang paling gigih menolakb kesepakatan
Bali pada pertemuan negara-negara dunia tahun 2007 di Bali. Ketika sebagian besar
negara-negara peserta mempermasalahkan etika industri negara-negara maju yang menjadi
sumber penyebab global warming agar dibatasi, Amerika menolaknya. Jika kita
menelusuri sejarah, dalam agama Islam tampak pandangan positif terhadap perdagangan
dan kegiatan ekonomis. Nabi Muhammad SAW adalah seorang pedagang, dan agama
Islam disebarluaskan terutama melalui para pedagang muslim. Dalam Al Qur’an
terdapat peringatan terhadap penyalahgunaan kekayaan, tetapi tidak dilarang mencari
kekayaan dengan cara halal (QS: 2;275) ”Allah telah menghalalkan perdagangan dan
melarang riba”. Islam menempatkan aktivitas perdagangan dalam posisi yang amat strategis
di tengah kegiatan manusia mencari rezeki dan penghidupan. Hal ini dapat
dilihat pada sabda Rasulullah SAW: ”Perhatikan oleh mu sekalian perdagangan,
sesungguhnya di dunia perdagangan itu ada sembilan dari sepuluh pintu rezeki”.
Dawam Rahardjo justru mencurigai tesis Weber tentang etika Protestantisme, yang
menyitir kegiatan bisnis sebagai tanggungjawab manusia terhadap Tuhan
mengutipnya dari ajaran Islam. Kunci etis dan moral bisnis sesungguhnya
terletak pada pelakunya, itu sebabnya misi diutusnya Rasulullah ke dunia adalah
untuk memperbaiki akhlak manusia yang telah rusak. Seorang pengusaha muslim
berkewajiban untuk memegang teguh etika dan moral bisnis Islami yang mencakup
Husnul Khuluq. Pada derajat ini Allah akan melapangkan hatinya, dan akan
membukakan pintu rezeki, dimana pintu rezeki akan terbuka dengan akhlak mulia
tersebut, akhlak yang baik adalah modal dasar yang akan melahirkan praktik
bisnis yang etis dan moralis. Salah satu dari akhlak yang baik dalam bisnis
Islam adalah kejujuran (QS: Al Ahzab;70-71). Sebagian dari makna kejujuran
adalah seorang pengusaha senantiasa terbuka dan transparan dalam jual belinya
”Tetapkanlah kejujuran karena sesungguhnya kejujuran mengantarkan kepada
kebaikan dan sesungguhnya kebaikan mengantarkan kepada surga” (Hadits). Akhlak
yang lain adalah amanah, Islam menginginkan seorang pebisnis muslim mempunyai
hati yang tanggap, dengan menjaganya dengan memenuhi hak-hak Allah dan manusia,
serta menjaga muamalah nya dari unsur yang melampaui batas atau sia-sia.
Seorang pebisnis muslim adalah sosok yang dapat dipercaya, sehingga ia tidak
menzholimi kepercayaan yang diberikan kepadanya ”Tidak ada iman bagi orang yang
tidak punya amanat (tidak dapat dipercaya), dan tidak ada agama bagi orang yang
tidak menepati janji”, ”pedagang yang jujur dan amanah (tempatnya di surga)
bersama para nabi, Shiddiqin (orang yang jujur) dan para syuhada” (Hadits).
Sifat toleran juga merupakan kunci sukses pebisnis muslim, toleran membuka kunci
rezeki dan sarana hidup tenang. Manfaat toleran adalah mempermudah pergaulan, mempermudah
urusan jual beli, dan mempercepat kembalinya modal ”Allah mengasihi orang yang
lapang dada dalam menjual, dalam membeli serta melunasi hutang” (Hadits). Konsekuen
terhadap akad dan perjanjian merupakan kunci sukses yang lain dalam hal apapun
sesungguhnya Allah memerintah kita untuk hal itu ”Hai orang yang beriman, penuhilah
akad-akad itu” (QS: Al- Maidah;1), ”Dan penuhilah janji, sesungguhnya janji itu
pasti diminta pertanggungjawabannya” (QS: Al Isra;34). Menepati janji
mengeluarkan orang dari kemunafikan sebagaimana sabda Rasulullah ”Tanda-tanda
munafik itu tiga perkara, ketika berbicara ia dusta, ketika sumpah ia
mengingkari, ketika dipercaya ia khianat” (Hadits).
4.
Konsep
dasar kewirausahaan
a)
Kewirausahaan adalah suatu nilai
yang diwujudkan dalam perilaku yang dijadikan dasar sumber daya, tenaga
penggerak, tujuan, siasat, kiat, proses, dan hasil bisnis (Ahmad Sanusi, 1994).
b)
Kewirausahaan adalah suatu kemampuan
untuk menciptakan sesuatu yang baru dan berbeda (Drucker, 1959).
c)
Kewirausahaan adalah suatu proses
penerapan kreativitas dan keinovasian dalam memecahkan persoalan dan menemukan
peluang untuk memperbaiki kehidupan (usaha) (Zimmerer,1996).
d)
Kewirausahaan adalah suatu nilai
yang diperlukan untuk memulai suatu usaha (start-up phase) dan
perkembangan usaha (verture growth) (Soeharto Prawiro, 1997)
e) Kewirausahaan adalah suatu proses
dalam mengerjakan sesuatu yang baru (creative), dan sesuatu yang berbeda
(innovative) yang bermanfaat memberikan nilai lebih.
f)
Kewirausahaan adalah usaha
menciptakan nilai tambah dengan jalan mengkombinasikan sumber-sumber melalui
cara-cara baru dan berbeda untuk memenangkan persaingan.
5.
Sikap
dan kepribadian kewirausahaan
a.
Percaya diri
Seorang wirausaha harulah memiliki sikap percaya diri, dan tidak mudah
tergiring dengan arus. Menjadi seorang wirausaha harus berani menunjukan
“aku-nya” sebagai seorang yang pantas untuk dicontoh.
b.
Pengambil resiko dan suka tantangan
Menjadi seorang wirausaha (membuat usaha sendiri) haruslah berani mengambil
resiko yang besar. Entah resiko itu nanti akan menghasilkan untung atau rugi
yang besar, kita tidak boleh takut untuk menghadapinya.
Bisa kita
ambil contoh seorang Bob Sadino, dia tidak takut untuk mengambil resiko. Dia
adalah orang Indonesia yang pertama kali menjual telur dan daging ayam negeri,
di mana saat itu ayam negeri belumlah sepopuler sekarang. Namun ia tetap
berani mengambil resiko untuk menjadi seorang pemrakarsa. Dan bisa kita lihat
asilnya sekarang, usaha dari Bob Sadino sangatlah berkembang pesat.
c.
Kepemimpinan
Seorang wirausaha harus memiliki jiwa-jiwa
kepemimpinan, yang diantaranya yaitu:
1)
Jujur
2)
Kompeten
3)
Berwawasan jauh kedepan
4)
Cerdas/Smart
5)
Inspirator bukan Diktator
6)
Adil
d.
Keorisinilan
Menjadi
seorang wirausaha, kita harus mampu menghasilkan produk-produk atau hasil-hasil
yang berbeda. Kita harus mampu menunjukan keorisinilan kita. Jangan Cuma bisa ikut-ikutan. Karena prinsip yang
utama dari seorang wirausaha ialah mereka bertindak sebagai kepala bukan ekor.
Karena seorang wirausaha adalah seorang inspirator, pengerak, penetus de-ide
briliyan dan mampu melakukan hal-hal tersebut karena memiliki konsep diri yang
mapan.
6. Ide dan peluang usaha
Seperti telah
dikemukakan, wirausaha dapat menambah nilai suatu barang dan jasa melalui
inovasi. Keberhasilan dapat dicapai apabila wirausaha menggunakan produk,
proses, dan jasa-jasa ininovasi sebagai alat utnuk kemggali perubahan. Oleh
sebab itu, inovasi merupakan sebuah instrumen penting untuk memberdayakan
sumber-sumber agar menghasilkan suatu yang baru dan menciptakan nilai.
Ketangguhan kewiraushaan sebagai penggerak perekonomian terletak pada kreasi
baru untuk menciptakan nilai secar terus menerus. Wirausaha dapat menciptakan
nilai dnegan cara mengubah semua tantangan menjadi peluang melalui ide-ide dan
akhirnya menjdai pengedali usaha.
Agar ide-ide
potensial menjadi peluang bisnis yang riil, maka wirausaha harus bersedia
melakukan evaluasi terhadap peluang secara teurs menerus. Proses penjaringan
ide atau disebut proses screening merupakan suatu cara terbaik untuk menuangkan
ide potensial menajadi prodeuk dan jasa riil. Adapun langkah untuk penjaringan
ide dapat dilakukan sebagai berikut :
1. Menciptakan produk baru dan
berbeda, ketika ide dimunculkan secara riil atau nyata, misalnya dalam bentuk
barang dan jasa baru, maka produk dan jasa tersebut harus berbeda dengan produk
dan jasa yang ada di pasar. Selain itu, produk dan jasa tersebut harus
menciptakan nilai bagi pembeli atau penggunanya.
2. Mengamati Pintu Peluang. Wirausaha harus mengamati potensi-potensi
yang dimiliki pesaing, misalnya kemungkinan pesaing mengembangkan produk baru,
pengalaman keberhasilan dalam mengembangkan produk baru, dukungan keuangan, dan
keunggulan-keunggulan yang dimiliki pesaing di pasar. Kemampuan pesaing untuk
mempertahankan posisi pasar dapat dievaluasi dengan mengamati
kelemahan-kelemahan dan risiko pesaing dalam menanamkan modal barunya.
3. Analisis produk dan proses
produksi secara mendalam. Analisa ini sangat penting untuk menjamin apakah
jumlah dan kulaitas produk yang dihasilkan memadai atau tidak. Beberapa biaya
yang di keluarkan untuk membuat produk tersebut? Apakah biaya yang kita
keluarkan lebih efisiensi daripada biaya yang dikeluarkan oleh pesaing?
4. Menaksi Biaya Awal, yaitu
biaya awal yang diperlukan oleh usaha baru. Dari mana sumbernya dan untuk apa
digunakan? berapa yang deperlukan untuk operasi, perluasan, dan biaya lainnya?
5. Memperhitungkan risiko yang
mungkin terjadi, misalnya risiko teknik, finansial, dan pesaing. Risiko pesaing
adalah kemampuan dan keseediaan pesaing untuk mempertahankan posisinya di
pasar. Risiko teknik berhubngan dengan proses pengembangan produk yang cocok
dengan yang diharapkan atau menyangkut suatu objek penetu apakah ide secara
aktual dapat idtransformasikan menjadi produk yang siap dipasarkan dengak
kapabilitas dan karakteristiknya. Risiko finansial adalah risiko yang timbul
sebagai akibat ketidakcukupan finansial, baik dalam tahap pengembangan produk
maupun dalam menciptakan dan mempertahankan perusahaan untuk mendukung biaya
produks baru. Analisa kelemahan, kekuatan, peluang, dan ancaman (strength,
weakness, opportunity, and threath-SWOT) sangat penting dalam menciptakan
keberhasilan perusahaan baru.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar